Dublin Core
Title
Praktik sosial kolektor di Kabupaten Jombang
Description
Keris sebagai identitas bangsa, khususnya masyarakat Jawa tidak lagi dipercaya oleh masyarakatnya sendiri. Keris menjadi sebuah fenomena saat ini karena posisinya yang beradadiantara benda pusaka yang bersifat mistis dengan masyarakat yang positivis. Pemaknaan keris tersebut pun beragam, beberapa kolektor memanfaatkan fungsi keris sesuai dengan tuahyang ada dalam keris. Sehingga orang yang memaknai keris itu bertuah dipandang oleh masyarakat sebagai orang yang menyimpang dari norma agama.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis teori praktik sosial Pierre Bourdieu. Penelitian ini menemukan ada banyak kolektor yang mempercayai hingga memanfaatkan tuah keris. Peneliti mengelompokkan temuan tersebut kedalam tiga kategori kepercayaan terhadap keris, yakni sebagai pesugihan, pengaruh derajat serta dapat mendatangkan ajal. Kemudian dari pemaknaan tersebut berkaitan pula dengan masyarakat santri dan masyarakat positivis dalam mempengaruhi posisi keris saat ini. Temuan lainnya dalam penelitian ini bagaimana kolektor melakukan praktik terhadap pemaknaan keris tersebut, termasuk habitus,modal serta ranah kolektor keris. Kolektor membangun sendiri modal-modal yang dimiliki untuk ikut bersaing ke ranah perkerisan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis teori praktik sosial Pierre Bourdieu. Penelitian ini menemukan ada banyak kolektor yang mempercayai hingga memanfaatkan tuah keris. Peneliti mengelompokkan temuan tersebut kedalam tiga kategori kepercayaan terhadap keris, yakni sebagai pesugihan, pengaruh derajat serta dapat mendatangkan ajal. Kemudian dari pemaknaan tersebut berkaitan pula dengan masyarakat santri dan masyarakat positivis dalam mempengaruhi posisi keris saat ini. Temuan lainnya dalam penelitian ini bagaimana kolektor melakukan praktik terhadap pemaknaan keris tersebut, termasuk habitus,modal serta ranah kolektor keris. Kolektor membangun sendiri modal-modal yang dimiliki untuk ikut bersaing ke ranah perkerisan.
Creator
Feyzar Nur Fadli
Arief Sudrajat
Source
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/paradigma/article/view/42931
Publisher
Universitas Negeri Surabaya
Date
22 September 2021
Identifier
nfdbf
Text Item Type Metadata
Text
Keris mengandung simbol-simbol yang pemaknaannyasbegitu dalam dan rumit. Simbol-simbol tersebut adaspada bentukskeris, status sosial, tempat, waktu, hingga penggunaan yang berkaitanspada karakteristik keris tersebut (Ardi, 2010). Keris saat ini sudah tidak digunakan sebagai senjata, tetapi keris masih tetap dirawat dan dibersihkan atau biasa disebut ‘dimandikan’. Ritual memandikan keris tersebut dilakukan pada malam 1 Suro pada kalender Jawa (Harsrinuksmo, 2004). Pelestarian keris saat ini tidak hanya melalui museum saja, tetapi ada masyarakat yang masih melestarikan dan menyimpan keris untuk koleksi pribadi.
Ada pula masyarakat yang sengaja melakukan jual beli keris untuk mendapatkan keuntungan, atau bisa ditukarkan dengan bendapusaka lainnya seperti tombak, lukisan, pedang, batu akik dan lain-lain. Pelestarian keris yang dilakukan oleh perorangan telah beralih fungsi, dari yang semula sebagai senjata kini menjadi barang komoditas. Ketika kerismenjadi barang komoditas yang adaialah interaksi jual beli. Interakasi atau proses komunikasi yang terjadi untuk memasarkan barang dagangannya agar laku terjual. Para pelaku kolektor yang menjual kerisnya membutuhkan jaringan yang luas dan kuat agar barangnya laku terjual atau untuk menambah koleksi kerisnya. Kegiatan jual beli yang dilakukan para kolektor keris tentunya memiliki modal sosial tersendiri, modal sosial tersebut harus terjalin secara luas terkhusus antar sesama kolektor. Selain saling mengenal karena kesukaan dan hobi yang sama juga dapat saling mengenal dengan adanya kerabat yang mereka kenal.
Ada pula masyarakat yang sengaja melakukan jual beli keris untuk mendapatkan keuntungan, atau bisa ditukarkan dengan bendapusaka lainnya seperti tombak, lukisan, pedang, batu akik dan lain-lain. Pelestarian keris yang dilakukan oleh perorangan telah beralih fungsi, dari yang semula sebagai senjata kini menjadi barang komoditas. Ketika kerismenjadi barang komoditas yang adaialah interaksi jual beli. Interakasi atau proses komunikasi yang terjadi untuk memasarkan barang dagangannya agar laku terjual. Para pelaku kolektor yang menjual kerisnya membutuhkan jaringan yang luas dan kuat agar barangnya laku terjual atau untuk menambah koleksi kerisnya. Kegiatan jual beli yang dilakukan para kolektor keris tentunya memiliki modal sosial tersendiri, modal sosial tersebut harus terjalin secara luas terkhusus antar sesama kolektor. Selain saling mengenal karena kesukaan dan hobi yang sama juga dapat saling mengenal dengan adanya kerabat yang mereka kenal.
