Etnografi daya magis keris pusaka

Dublin Core

Title

Etnografi daya magis keris pusaka

Description

Keberadaan daya magis keris pusaka atau sering diistilahkan sebagai daya
isoteri keris pusaka dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa mungkin berada pada paparan ada dan tiada. Penempatan daya magis keris pusaka sebagai penelitian ilmiah sungguh merupakan hal yang hampir mustahil dilakukan. Penelitian ini menempatkan sebuah fenomena budaya yang bagi sebagian
besar masyarakat dikategorikan dalam ranah mistis dan irasional harus dikaji lewat teori-teori budaya yang ilmiah – nyata dan rasional. Daya magis keris memang sulit untuk dibuktikan secara nyata, namun hal yang bisa dilihat kasat mata dan dapat dibuktikan ialah reaksi masyarakat terhadap keberadaan hal yang sebenarnya sulit dibuktikan ini.

Creator

Stefanus Rudyanto

Source

Stefanus Rudyanto (2015). Etnografi daya magis keris pusaka. Dosen Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Widya Kartika Surabaya. https://e-journal.unair.ac.id/LAKON/article/view/1940

Publisher

Dosen Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Widya Kartika Surabaya

Date

2015

Identifier

nfdbf

Text Item Type Metadata

Text

Sejarah pun mencatat peranan daya magis keris dalam kehidupan tokoh-tokoh di dalamnya. Dalam perang Diponegoro (1825 – 1830), sang pangeran dari Tegal Rejo ini selalu membawa keris pusaka Kyai Carang Mayit 4
dengan cara diselipkan di pinggangnya (Soeharyono, 2008). Bila keris tersebut menebarkan bau amis, maka pasukan Diponegoro bakal unggul dalam palagan. Namun bila tercium bau bunga melati dari keris itu, maka akan banyak jatuh korban di pihak pasukan Jawa.

Tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan juga tak ketinggalan menggunakan keris pusaka sebagai senjata andalan dalam melawan penjajah. Jenderal Besar Soedirman membawa keris pusaka di balik mantelnya. Dalam konteks ini, keris bukanlah senjata untuk menentang Belanda, melainkan sebagai artefak yang diyakini membuat orang yang menyandangnya menjadi lebih berani dan kelihatan lebih berwibawa (Harsrinuksmo, 2004).

Bagi masyarakat kota Surabaya, sudah tak asing lagi dengan potret hitam putih Bung Tomo (Sutomo) yang sedang membakar semangat arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November. Dalam foto itu jelas terlihat Bung Tomo menyelipkan keris pusaka di bagian pinggangnya. Hal
demikianlah yang menyebabkan keberadaan keris beserta kepercayaan akan daya magis di dalamnya melekat erat dan hidup di alam berpikir masyarakat.